PENGUMUMAN
TO EVERYONE:
Starting with this point forward, this blog wouldn’t be activated anymore. I would like to share my stories and thoughts within http://bellemindlmp.blogspot.com/
Waiting for your comments in my new site!GBU!
TO EVERYONE:
Starting with this point forward, this blog wouldn’t be activated anymore. I would like to share my stories and thoughts within http://bellemindlmp.blogspot.com/
Waiting for your comments in my new site!GBU!
TK-5017 Praktek Keprofesian dan Kewirausahaan (PKK) besok ujian nieh..ad yang bilang bahannya cukup hafalin satu slide aja (Regin dan Shar), tapi tadi Okta YM kalo Pak Irwan bilang suruh pelajari garis besar dari setiap slide..waks..daripada simpang siur mending bikin rangkumannya aj deh sebisanya..
Secara umum, kuliah PKK ini tidak seperti mata kuliah di Teknik Kimia (TK) yang biasa, karena bentuknya merupakan kuliah tamu dari berbagai pembicara yang merupakan alumni TK ITB dari berbagai angkatan dan profesi, mereka sharing pengalaman dan mereview apa saja yang mereka lakukan setelah lulus dari TK ITB. Tujuannya memberi gambaran dan mempersiapkan para calon lulusan TK agar dapat berkarya dan mengaplikasikan ilmunya di masyarakat. Semua pembicara datang dari kalangan praktisi industri, baik dari BUMN, swasta, maupun asing sehingga mereka dapat memberikan gambaran secara menyeluruh tentang peran insinyur teknik kimia di dunia industri. Kuliah ini cukup membuka wawasan dan memberi gambaran peluang kerja di masa depan. Garis besar dari masing-masing presentasi adalah sebagai berikut.
Dr. Irwan Noezar (Dosen TK-5017)
Etika profesi adalah ikatan untuk melayani dan mendahulukan kepentingan masyarakat yang melampaui ikatan kewajiban kepada pemberi kerja. Sertifikasi profesional untuk bidang teknik adalah: sarjana teknik (tamatan perguruan tinggi teknik), insinyur (sarjana yang menjadi anggota organisasi profesi keinsinyuran), dan insinyur profesional (insinyur yang mempunyai kompentensi profesional). Namun, sayangnya di Indonesia saat ini tidak ada sertifikasi kompetensi keahlian dan tidak ada lembaga yang terakreditasi secara internasional. Risk management meliputi: design and pre-modification revies, chemical risk assessment, dan process safety management. Wirausaha adalah orang yang mampu memanage bisnis dengan memperhitungkan risiko untuk memperoleh keuntungan. Tiga aspek penting dari seorang wirausaha adalah tujuan, situasi, dan sumber daya. Seorang wirausaha dituntut untuk dapat membuat suatu situasi yang tepat dalam berwirausaha, memanfaatkan segala kesempatan, dan dapat mengolah sumber daya menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual, di mana semua itu dia lakukan untuk mencapai tujuannya. Kriteria yang harus dimiliki setiap wirausaha adalah: kreatif, inovatif, good networkers, kemampuan determinasi untuk menyelesaikan masalah, mengendalikan bisnis dan risiko. Proses menjadi seorang entrepreneur antara lain:
1. Mengidentifikasi dan mengevaluasi kesempatan
2. Membangun business plan
3. Memiliki atau mengusahakan adanya sumberdaya
4. Mengatur bisnis yang telah dibangun
Untuk menarik investor dalam usahanya, seorang entrepreneur harus membuat sebuah business plan. Business plan ini antara lain berisi:
-introductory page
-executive summary
-industry analysis (analisis pasar)
- description of the venture
-production plan
-operational plan
-marketing plan
-organizational plan (bentuk kepemilikan)
-assessment of risk (beserta alternatif rencana darurat)
-financial plan
Ir. Nanang Untung (PT Badak NGL, TK’77)
LNG adalah gas alam yang terkandung di dalam bumi. Tantangan dalam proses LNG berada pada proses transportasinya, karena pada suhu kamar LNG berbentuk gas. Teknologi pemrosesan LNG terdiri dari purifikasi dan transportasi, di mana proses utamanya adalah siklus refrigerasi(MCR - Multi Component Refrigeration) dengan fluida pendingin propane, etilen, dan metana. Tahap-tahap untuk memulai sebuah proyek adalah: analisis kelayakan, planning and design, facilities construction, turnover and startup. Manajemen proyek adalah aplikasi pengetahuan, kemampuan, alat, dan teknik di dalam aktivitas proyek untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan tujuan proyek. Proses dari sebuah proyek disajikan pada gambar berikut.
Ir. Rudy Bharoto (Swasta, TK’76)
Presentasi ini disarikan dari buku “7 Habit of Highly” Effective People” karangan Steven Covey, yang merupakan pendekatan pola berpikir berdasarkan pembentukan kebiasaan. Ketujuh kebiasaan ini diharapkan dapat membantu kita untuk memecahkan masalah, memaksimumkan peluang, dan tumbuh meningkat secara efektif. Ketujuh kebiasaan tersebut terbagi menjadi dua bagian besar yakni: hubungan dengan diri sendiri dan hubungan dengan orang lain. Kebiasaan yang menyangkut hubungan dengan diri sendiri yakni:
1. jadilah proaktif: lebih dari sekedar mengambil inisiatif, lebih dalam lagi proaktif berarti bahwa sebagai manusia kita bertanggung jawab atas hidup kita sendiri. Jangan sampai orang lain mengambil kendali atas hidup kita, atau jangan biarkan orang lain mempengaruhi suasana hati kita.
2. merujuk pada tujuan akhir: fokus pada tujuan kita, jangan sampai kegiatan yang kita lakukan tidak efektif. Hasil yang besar membutuhkan usaha yang keras.
3. matriks manajemen waktu: first thing first, dan tentukan prioritas
Sedangkan kebiasaan-kebiasaan selanjutnya menyangkut hubungan kita dengan orang lain:
4. berpikir menang/menang: berusaha mencari solusi yang dapat menguntungkan untuk diri sendiri dan orang lain
5. berusaha mengerti terlebih dahulu lalu dimengerti: mendengar pendapat orang lain
6. wujudkan sinergi: kita dapat mengasilkan karya yang besar bila bekerjasama dengan orang lain.
Untuk melakukan 3 kebiasaan yang terakhir, kita perlu membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Hubungan yang baik itu dibina dengan menumbuhkan rasa kepercayaan pada diri orang lain dengan cara memenuhi komitmen, memperlihatkan integritas, menolong dengan tulus, dan meminta maaf bila melakukan kesalahan.
7. mengasah 6 kebiasaan tersebut terus-menerus
Ricky Hikmawan Wargakusumah, ST, MH (PEI, TK’88)
Selain menguasai ilmu-ilmu keteknikkimiaan, seorang insinyur Teknik Kimia perlu untuk mengetahui beberapa materi hukum bisnis, di antaranya hukum organisasi perusahaan dan hubungan industrial, hukum perjanjian, HAKI, penyelesaian sengketa, hukum pasar modal, hukum persaingan usaha, dan kejahatan bisnis. Selain itu perusahaan memiliki Corporate Social Responsibility yaitu tanggung jawab perusahaan terhadap segala dampak sosial yang menyebabkan komunitas dan lingkungan masyarakat terganggu. Jika terjadi sengketa dalam bisnis, dapat melalui jalur pengadilan atau arbitrase. HAKI adalah hak yang timbul dari asil olah pikir otak untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi manusia. HAKI terdiri dari hak cipta (copyright) dan hak kekayaan industri (paten, trademark, trade secret, industrial design, dll). Pasar modal adalah kegiatan yang berkaitan dengan penawaran umum dan perdagangan efek (surat berharga: saham, obligasi). Perjanjian dan kegiatan yang dilarang di dalam hukum persaingan usaha adalah: oligopoli, penetapan harga, kartel, monopoli, dll. Sedangkan potensi-potensi bisnis lingkungan yang terbuka luas karena kebijakan baru pemerintah adalah: energi alternatif dan pengelolaan sampah.
Ir. Rachmad Hardadi, MT (Pertamina UP V, TK’79)
Pertamina merupakan satu-satunya oil refinery (kilang) di Indonesia. Dengan total 6 kilang, yaitu Dumai, Musi, Balongan, Cilacap, Balikpapan, dan Kasim, Pertamina adalah pemasok BBM terbesar di Indonesia. Proses-proses yang terjadi di kilang Pertamina antara lain: receiving and storage, refining, blending and storage, dan delivering. Oleh karena itu, Pertamina memegang peran penting dalam sektor industri di Indonesia. Namun, kini Pertamina menghadapi banyak tantangan yakni keharusan untuk meningkatkan fokus, stakeholder yang kian kompleks, kurangnya competitive mindset and skill, dan rendanya investasi infrastructure and design. Untuk tetap bersaing dalam bisnis perminyakan, Pertamina perlu bertransformasi menjadi perusahaan yang: confident, clean, customer focused, competitive, commercial, dan capable. Program transformasi pengolahan mencakup mengidentifikasi peluang, mengatur sistem dan proses manajemen, kemampuan menyampaikan visi yang jelas, dan pemimpin yang dapat melakukan semua hal tersebut.
Perubahan manajemen di kilang Pertamina telah mendapatkan hasil yang memuaskan, ditinjau dari parameter operasi, produk yang dihasilkan, dan keuntungan yang didapatkan. Untuk ke depannya, Pertamina berharap dapat menjadi salah satu perusahaan minyak yang diakui di dunia karena keuntungan, pertumbuhan, dan kemampuannya. Peran keahlian Insinyur Teknik Kimia adalah: process engineering, HSE, pengolahan, pengendalian kualitas dan operasi kilang, project design, R&D, skill&knowledge development, strategic business development.
Ir. Mustafa Kamil Thahir (PT ANP, TK’74)
Kesuksesan tidak datang dengan sendirinya, kesuksesan adalah buah dari kerja keras yang tidak henti-hentinya. Untuk mencapai tujuan kita harus fokus pada tujuan. PT ANP adalah perusahaan yang bergerak pada banyak bidang, yakni menyuplai katalis, bahan kimia, EPC, produksi pelumas dan pupuk.
Erwin Sutanto, PhD (PT Ecogreen Oleochemical, TK’81)
Oleochemical adalah produk antara yang dihasilkan dari minyak nabati atau hewani, contohnya asam lemak, gliserol, alkohol lemak, dan metil ester. Oleochemical banyak digunakan pada produk deterjen, sampo, cairan pencuci piring, antioksidan, lubrikan, agen peleleh logam, dll. Sumber oleochemical terbesar di Indonesia adalah kelapa sawit jenis Pisifera. Produk-produk yang dihasilkan antara lain asam lemak untuk sabun, pelarut, dan pelumas, gliserol untuk farmasi, kosmetik, pasta gigi, dan dinamit. Metil ester dapat disintesis dari transesterifikasi trigliserida minyak dengan katalis basa. Kegunaan metil ester adalah antibusa, antioksidan biodiesel, sampo, dan sabun cair. Alkohol lemak dapat dihasilkan dari hidrogenasi asam lemak dan metil ester. Katalis yang digunakan adalah copper dan zinc chromite. Alkohol lemak memiliki banyak aplikasi yakni: plasticizer, penambah rasa dan bau (short-chain), deterjen, kosmetik, parfum, sampo, dan sabun cair (mid-cut), surfaktan, lipstick, antioksidan, dan pelumas (long-chain).
Ir. Eddy Herman (PT Rekayasa Industri, TK’76)
Perusahaan EPC memiliki 4 tugas utama yaitu: engineering yang mencakup basic dan detail design, procurement yang mencakup pembelian, fabrikasi, expediting, shipping, construction, commissioning, dan startup. Tahapan yang dilakukan dalam pembangunan sebuah pabrik yakni: construction engineering, project management, schedule control, cost control, dan risk management. Setiap disiplin ilmu memiliki tugas yang berbeda-beda dalam suatu proyek. Ilmu teknik yang banyak digunakan dalam perusahaan EPC adalah teknik kimia, teknik fisika, teknik mesin, dan teknik elektro. Dalam mendesain sebuah pabrik diperlukan standar dan software desain. Tipe-tipe kontrak yang biasa dijalankan adalah lump sum turn key, cost plus fee, dan EPC services. Pabrik-pabrik yang telah berhasil dibangun PT Rekayasa Industri antara lain pabrik pupuk, kilang minyak, geothermal, dan proyek-proyek besar lainnya.
Ir. Eddy Kemenady, MM, MP (PT Sari Husada, TK’81)
Inti dari R&D adalah membawa ide yang dimiliki menjadi teknologi proses untuk kemudian produknya diberikan ke pasar. Kunci dari inovasi yang sukses adalah kemampuan personal, prosesnya, dan kemampuan untuk mengatur keuangan. Bahkan produk tradisional seperti kecap dan agro industri pun harus selalu dikembangkan agar dapat memiliki operasi yang optimal dan lebih ekonomis supaya dapat berkompetisi. Salah satu contoh inovasi yang sukses adalah susu bubuk terfermentasi yang dapat meningkatkan penyerapan di dalam tubuh.
24/11/2008
Hari ini saya seneng banget, bisa diingetin akan kesalahan yang sebelumnya tidak saya sadari. Kejadiannya waktu saya dan partner mau bagi2 duit hadiah penelitian kami dari PT Rekayasa Industri. Partner saya ngomong kalo dia pengen dapet bagian duit yang lebih karena dia ngerasa lebih berkontribusi akan kemenangan kami. Memang saya akui, partner saya lebih dominan dan berperan dalam penelitian ini, namun kadang2 saya juga merasa ga dikasih kesempatan dan kepercayaan sama dia dalam benerin alat, ngambil sampel, semua inisiatif kayaknya diambil dia semua dan saya ga dikasih kesempatan ngapa-ngapain. Akhirnya dia cerita kalo dia kayak gitu karena saya setengah-setengah dalam melaksanakan penelitian, mudah putus asa, panik, dan ga serius menggunakan seluruh upaya saya dalam penelitian ini, yang akhirnya bikin dia lebih baik mengerjakan semuanya sendirian.
Jleb..Ingatan saya terbayang-bayang sampai pada 2-3 bulan yang lalu, di mana saya selalu menaruh penelitian di urutan paling bawah dalam prioritas, dan ga pernah memikirkan sungguh-sungguh soal ini. Saya terlalu bergantung pada partner saya dan menyerahkan semua tugas sama dia, saya pikir saya aja yang bakal bikin laporan dan mengolah data. Sebersitpun saya tidak pernah berpikir untuk belajar sesuatu dari penelitian ini. Mindset saya adalah penelitian saya bermasalah sehingga saya jenuh dan ingin cepat2 ngrun dan mendapatkan hasil. Semakin hari saya semakin putus asa karena reaktor saya bocor terus, tanpa memikirkan makna pembelajaran dari semua pengalaman. Rupanya hal ini juga disadari oleh partner saya sehingga dia kurang memberi kepercayaan kepada saya karena takut malah jadi tambah kacau klo saya yang ngerjain, ditambah lagi dengan sifat saya yang mudah panik.
Awalnya saya terhenyak mendengar pemaparan dari partner saya tentang hal ini. Saya langsung merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjadi partner yang bisa dia andalkan. Tapi setelah bisa menerima, saya seneng karena dia bisa terbuka sehingga kami bisa mengevaluasi diri, kurangnya komunikasi kami selama ini harus segera diatasi. Saya yakin Tuhan yang bicara melalui partner saya untuk mengingatkan saya, karena saya akui saya masih memiliki banyak sekali kekurangan. Terburu-buru, manja, berpikiran negatif, dan mudah putus asa adalah beberapa di antaranya. Melalui penelitian ini, saya yakin Tuhan ingin menempa saya jadi hambaNya yang lebih kuat, ga cengeng dalam menghadapi masalah seberat apapun. Karena dalam problema apapun, saya yakin Tuhan akan selalu menyertai segala langkah saya, daya dan upaya saya tidak akan ada yang sia-sia.
Sekali lagi thank’s buat my research partner..senang bekerjasama denganmu!!! maafkan saya dan hari esok pasti jadi lebih baik..:-)..saya akan berusaha!!!
(kalo temen2 buru2 baca dari paragraf terakhir aja, karena paling krusial,,sisanya cuma catatan jurnal harian saya)
Rangkaian acara Engineer Week berlangsung dari tanggal 29 Oktober 2008 - 6 November 2008 yang meliputi The Sixth International Symposium on South East Asian Water Environment (SAWE) yang bertempat di Hotel Jayakarta Bandung, Seminar Teknik Kimia Soehadi Reksowardojo (STKSR) di Aula Barat ITB, dan Lomba Rancang Pabrik Tingkat Nasional (LRPTN) di Aula Timur ITB. Keseluruhan acara ini mengusung tema yaitu “Engineering for More Livable Environment”. Acara ini merupakan acara pertama yang ditujukan untuk kalangan Teknik Kimia di Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya, dan masyarakat umum setelah dua tahun terakhir Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HIMATEK) ITB sempat vakum mengadakan kegiatan yang berbasis forum ilmiah.
SAWE merupakan seminar regional tahunan Asia Tenggara yang mempertemukan para ahli untuk membahas permasalahan pengelolaan air bersih, yang semakin langka saat ini dan juga potensi-potensi yang dapat dimanfaatkan dari air itu sendiri. Ahli-ahli pengelolaan air berdatangan dari seluruh dunia untuk bertukar pengalaman mengenai permasalahan air bersih di negaranya. Acara ini diawali dengan field trip ke Waduk Jatiluhur dan PT Pindo Deli. Karena acara ini sangat eksklusif dan tertutup oleh umum kecuali MC dan dokumentasi, maka saya tidak dapat menyaksikan acara ini secara langsung, sayang sekali. Paling bertanya sedikit-sedikit kepada teman yang jadi MC dan fotografer. Karena bukan merupakan laporan pandangan mata dan hanya cerita, rasanya tidak tepat kalau saya tulis disini.
Rangkaian acara Engineer Week dilanjutkan dengan STKSR pada tanggal 3-4 November 2008 di Aula Barat ITB. STKSR adalah seminar tahunan untuk kalangan akademisi dan praktisi Teknik Kimia seluruh Indonesia, tahun ini mengusung tema “Peran Insinyur pada Keselamatan Pabrik Kimia dan Keberlangsungan Lingkungan” (kata-katanya tidak tepat seperti itu, tapi saya lupa pastinya). Pada seminar ini menampilkan enam keynote speaker yaitu Prof. Koichi Fujie (Yokohama National University), Luthfi Fachda, Ph.D (Pertamina), Utun Sutrisna dan Deddy Syam (AMC Cilegon) pada hari pertama dan Prof. Dr. Michael Sturm (Cologne University of Applied Science), Prof. J.C. Liu (National Taiwan University of Science and Technology), dan Ir. Sutadi Sosroatmodjo (Kangean Energi Indonesia) pada hari kedua. Keynote speaker berlangsung sampai makan siang, yang dilanjutkan dengan presentasi karya-karya ilmiah oleh mahasiswa, dosen, dan praktisi industri secara paralel di ruang-ruang di dalam Aula Barat dan Campus Center (CC). Karena saya sedang sibuk persiapan untuk acara esok harinya, maka saya tidak sempat mengikuti seminar-seminar ilmiah yang pastinya sangat menarik.
Acara terakhir yang menutup rangkaian acara Engineer Week ini adalah final LRPTN, di mana saya cukup terlibat di dalamnya (sebagai tim Materi dan Penjurian). Persiapan acara ini sudah dimulai dari akhir tahun 2007, yang mencakup pematangan konsep acara, pencarian potensi pendanaan, dan persiapan acara itu sendiri. Pematangan konsep acara merupakan salah satu bagian yang cukup menyita waktu, karena harus melakukan berbagai dialog dengan dosen, pertimbangan menyatukan tiga acara besar menjadi Engineer Week, dan optimasi untuk mencapai LRPTN yang dapat merangkul semua kalangan mahasiswa Teknik Kimia di Indonesia. Tantangan tersendiri bagi tim Materi dan Penjurian, karena harus menampung segala masukan dari dosen, mahasiswa, dan kakak-kakak alumni untuk kemudian menggodoknya menjadi suatu tema yang berkualitas dan mewakili segala pihak. Ditambah lagi dengan tidak adanya masukan dan file-file dari LRPTN terdahulu (hilang sepertinya), kakak-kakak alumni yang sudah pada lulus sehingga kami harus mendesain kembali kaidah, peraturan, dan segala tetek-bengek perlombaan dari awal kembali. Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, LRPTN ini mengusung tema “Engineering Our Own”, optimalisasi kekayaan alam Indonesia dengan 3 kategori: pangan dan bahan kimia antara, bahan bakar, dan problem solving (evaluasi kinerja kolom fraksionasi di Pertamina Dumai). Salah satu persiapan LRPTN untuk menjaring peserta sebanyak-banyaknya dari universitas yang beragam adalah acara roadshow ke enam kota besar: Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Medan, dan Palembang. Dari proposal yang masuk diseleksi 3 orang finalis dari masing-masing kategori untuk mempresentasikan karyanya pada acara final LRPTN. Secara khusus, saya menjadi LO dari juri kategori B kalangan investor, yaitu Prof. Dr. Singgih Riphat dari Departemen Keuangan RI, selain dua juri lainnya dari kalangan praktisi dan akademisi. Hari pertama berlangsung presentasi kategori A dan C secara paralel, untunglah semua berjalan lancar. Presentasi kategori C berlangsung seru (dan tentunya menghibur penonton) karena juri mengajukan pertanyaan-pertanyaan maut. Moderatornya aja Pak Danu (dosen operasi pemisahan yang sangat ahli). Saya kebetulan dipercaya menjadi moderator untuk presentasi final kategori B tanggal 6 November 2008, di mana saya harus mempelajari lagi proposal-proposal finalis supaya ga keliatan tolol di depan, pengalaman dan pembelajaran pertama menjadi moderator di acara sebesar ini, ditonton dosen-dosen dan orang penting Teknik Kimia dari berbagai universitas di Indonesia. Ditambah pesan sponsor dari ketua Tim Materi Dani Saputra (TK05) supaya membawakan acara dengan lebih luwes dan santai, jangan terlalu tegang..Semuanya saya coba lalui dengan santai dan berdoa, dan akhirnya hari yang menentukan itu tiba. Sehari sebelum acara, saya sudah sempat membuat draft pasti panduan ngomong sebagai moderator, sudah saya susun beberapa hari sebelumnya, yang akhirnya saya buang pada hari-H karena saya mau bicaranya mengalir saja, tidak seperti ada skenarionya. Permasalahan kedua, rias wajah. Walau dikenal centil, tapi saya paling ga bisa dan ga pernah dandan, apalagi ke wajah sendiri, wong melukis saja ga becus..Untung ada Kiki (TK05) dan Che-A (TK05) yang selalu siap membantu tata rias wajah dan rambut. Rambut digulung model-model wanita karir masa kini gitu, cantik deh, bahkan sampai malam acaranya selesai, saya ga mau buka karena bagus banget..hehe norak yah..berasa udah kerja deh pokoknya, nyaman banget dengan pakaian kantoran ala The Executive, semoga nanti bisa tercapai aminn.. Evaluasi dari hari sebelumnya menyatakan waktu harus dimanajemen dengan lebih baik, jangan sampai ada juri yang bertanya secara bertubi-tubi karena waktu akan menjadi tidak efektif dan molor. Hal ini saya sampaikan kepada para juri, yang untungnya mau bekerjasama dengan baik, hingga akhirnya bukan hanya waktu telah termanajemen dengan baik, bahkan ada beberapa kali kesempatan untuk kesempatan bertanya dari penonton sehingga lebih presentasi berlangsung interaktif. Pada awalnya saya grogi banget membawakan acara, sampe2 ngira suara udah kedengeran gugup, puji Tuhan temen-temen malah bilang saya terlalu santai, jadi harus lebih formal, hehehe.. Berusaha memperbaiki penampilan dan menambah aura keformalan, pada sesi dua saya dianggap sudah mencapai standar yang ditetapkan, ternyata Tuhan yang mampukan saya..halah..Presentasi berlangsung seru dan atraktif, bahkan saya ikutan mikir karena pertanyaan-pertanyaan dari juri cukup menantang dan menarik. Akhirnya acara berakhir juga (legaaaaaaaaa)..lapar karena siangnya cuma makan sedikit..
Kategori A dimenangkan oleh Erza dan Lina (Universitas Widya Mandala Surabaya) sebagai juara I, Habib dan Eka (ITB) sebagai juara II, dan xxx (lupa maaf, dari UGM) sebagai juara III..Kategori B dimenangkan oleh Adiet (ITB) sebagai juara II, Cipta dan Daesy (ITN Malang) sebagai juara II, dan Lina dan Nur (Universitas Muhamaddiyah Jakarta) sebagai juara III, sedangkan kategori C dimenangkan oleh Ridha dan Angga (ITB) sebagai juara I, Tirta dan yyy (ITB) sebagai juara II, dan zzz (ITS) sebagai juara III.
Setelah persiapan yang cukup panjang, acara ini dapat berlangsung juga, dengan banyak kendala dan tantangan, terutama masalah birokrasi dana dari FTI (Fakultas Teknologi Industri) ITB yang rumit dan berbelit-belit sempat bikin dana dipotong sana-sini sehingga harus konfirmasi sana-sini juga, ketiadaan contoh dari LRPTN sebelumnya, keharusan untuk mengadakan acara karena kalo batal lagi (kayak taun lalu) ITB tidak dipercaya lagi menjadi host LRPTN selanjutnya (kata BKKMTKI) sehingga mau ga mau acara harus jadi, dan masih banyak lagi karena acara ini masih kurang dari sempurna dan diharapkan perbaikannya pada acara-acara selanjutnya. Makasih untuk para dosen yang telah memberikan sumbangan pemikiran, usulan kontak, dan koneksi kepada para alumni penyandang dana dan juri, khususnya kepada Pak IGBN Makertihartha (Kaprodi Teknik Kimia) yang sangat mendukung dan memfasilitasi kegiatan kemahasiswaan seperti ini. Special thanks to Enriko Siregar (TK05) dan timnya yang udah pontang-panting nyari duit sana-sini, moga2 dapat banyak koneksi yah pak..juga kepada seluruh panitia materi dan Engineer Week..we’ve finally made it!! Secara khusus saya mendapat banyak sekali pembelajaran dari acara ini, kemampuan komunikasi dan organisasi yang terus diasah, juga koneksi yang pastinya berguna di masa yang akan datang..hohoho..semoga acara ini bisa menjadi momentum untuk generasi-generasi HIMATEK mendatang untuk membuat acara yang lebih baik lagi..
Terakhir, pemikiran out of the box saya yang tiba-tiba muncul sebelum pelaksanaan hari-H ketika jumlah peserta belum mencapai target yang diinginkan. Saya merasa LRPTN ini, di tengah segala kemegahan dan kekerenannya, belum dapat merangkul seluruh kalangan mahasiswa Teknik Kimia di Indonesia, pertama karena tema rancang pabrik sesungguhnya sangat beraneka ragam, dapat merupakan topik apa saja, sehingga sulit untuk mencari tema yang sesuai dengan semua judul, dan untuk membuat sebuah rancang pabrik dibutuhkan waktu yang lama (berbulan-bulan) dan pemikiran komprehensif seorang sarjana Teknik Kimia yang pastinya udah berada pada tingkat akhir. Sehingga tidak mungkin jika mereka dipaksa untuk membuat satu lagi proposal rancang pabrik (satu aja susah!!!), khusus untuk mengikuti LRPTN, karena siapa yang niat?! Ditambah mahasiswa tingkat akhir yang sudah memiliki prioritas dan fokus yang lain yaitu tugas akhirnya dan dorongan mencari pekerjaan, sehingga kurang memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan perlombaan. Hal ini mengakibatkan, walau sudah maksimalnya publikasi dan roadshow yang diberikan, namun jumlah proposal yang masuk masih jauh dari harapan. Kedua, tema yang dipaksakan luas karena ingin menjaring peserta yang banyak menyulitkan dalam proses seleksi, karena ilmu Teknik Kimia yang sangat luas dan beragam, menyulitkan untuk mencari juri yang dapat menguasai segala permasalahan tersebut, karena kebanyakan sudah memiliki bidang spesifikasi ilmu yang didalami. Terakhir, karena panitia masih tingkat 2 dan 3 dan belum mendapat mata kuliah rancang pabrik, maka untuk membuat kriteria, tema, dan hal-hal lainnya (terutama tim materi) maka kami pun masih merasa gamang dan belum pantas. Oleh karena itu, saya berpikir kemungkinan untuk mengubah konsep LRPTN menjadi sebuah Chemical Engineering Competition yang merupakan lomba problem solving keteknikan yang diperuntukkan terbuka untuk mahasiswa Teknik Kimia tingkat 1,2,3, dan 4 dari seluruh Indonesia. Konsep lombanya kira-kira seperti ini, diadakan seleksi-seleksi kecil di beberapa kota besar (semacam roadshow) untuk menjaring finalis dari berbagai kota untuk kemudian ditandingkan kembali di Bandung, jumlah finalis tidak terbatas 3, tetapi bisa dilakukan sistem diambil finalis dari setiap kota. Materi soal bisa diambil dari pelajaran2 Teknik Kimia yang sudah umum dipelajari, juga permasalahan yang umum dihadapi di dalam dunia industri yang tidak terlalu kompleks namun dapat mengasah Sense of Engineering mahasiswa..Dengan cara ini, kita bisa melibatkan seluruh elemen mahasiswa Teknik Kimia untuk ikut serta. Dalam final bisa diadakan karantina agar tidak terjadi kecurangan, juga menjaga objektivitas penilaian. Jika memungkinkan, soal-soal dibuat oleh tim soal yang terdiri dari kalangan akademisi dan industri. Kemungkinan untuk perluasan, bisa dilakukan cerdas cermat TK untuk anak2 SMA untuk sekaligus memperkenalkan Teknik Kimia kepada mereka. Gimana temen2 soal “ide gila” ini? Masih merupakan wacana, membutuhkan banyak masukan dan harus dipikirkan lebih dalam soal teknisnya, tapi mungkin bisa jadi salah satu alternatif?? Ditunggu tanggapannya yah..Demi LRP yang lebih baik..hohhoo…
Udah 3 tahun terakhir ini, mahasiswa baru ITB atau yang lebih dikenal dengan mahasiswa TPB mengalami sindrom yang sama. Pertama, euphoria karena berhasil masuk di fakultas dan jurusan yang dipengenin, trus adaptasi sama lingkungan yang baru, dikenalin sama unit dan himpunan2 dan kakak2 kelas yang begitu menarik hati..halah..Trus mengalami berbagai tekanan mulai dari orangtua, yang ga puas cuma sampe masuk ITB doank tapi juga menunggu nilai yang bagus, gengsi kalo nilai2 pada amburadul, ditambah lagi tekanan dari Direktorat Jenderal (?) Akademik ITB yang mengultimatum kalo semua pelajaran TPB harus lulus dalam waktu maksimum 2 tahun, kalo ga surat DO tinggal menunggu untuk dilayangkan, belum lagi setelah itu ada semacam tuntutan untuk lulus tepat waktu (4 tahun)..Huh.. 3 tahun yang lalu, waktu saya masih tingkat I (TPB), saya sempet ngalamin yang namanya stres dan takut sama ujian, walaupun beredar gosip dari kakak-kakak kelas kalo ujiannya itu gampang dibandingin sama ujian tingkat2 atas..Sempet ragu juga apa saya bisa lulus dengan baik di ITB. Waktu jaman saya, 3 tahun yang lalu, udah cukup banyak tempat-tempat les atau BimBel yang menawarkan paket-paket untuk mata kuliah yang paling ditakuti: Kalkulus, Fisika Dasar, Kimia Dasar. Waktu itu belum banyak yang ikut, mungkin karena tuntutan-tuntutan tersebut belum sampai tahap yang menyesakkan hati. Saya pribadi ga tertarik, karena apa bedanya kita mahasiswa, yang notabene udah menyandang status “maha” dengan siswa-siswa sekolahan yang masih pake seragam? Siswa2 yang masih pake seragam wajar untuk diberi bimbingan dalam bidang apapun, termasuk dalam bidang pelajaran, namun kita, MAHAsiswa, apalagi kalo boleh sedikit menyombongkan diri, adalah MAHAsiswa ITB yang diharapkan untuk menjadi tonggak-tonggak pembawa perubahan bagi negeri ini..MAHAsiswa yang nantinya akan menjadi pemimpin2 besar,,Seharusnya kitalah yang membimbing, bukan dibimbing, kitalah yang memberi, bukan diberi. Inilah waktu kita untuk berdikari, untuk membuktikan bahwa kita bisa belajar mandiri tanpa les atau bimbingan-bimbingan belajar. Dulu saya mengira bimbingan-bimbingan belajar tersebut tidak akan bertahan lama karena tidak ada peminatnya. Namun, kenyataan mengatakan sebaliknya. Sekarang bimbingan2 belajar semacam itu menjadi semakin menjamur, bak cendawan di musim hujan, laris bak es shanghai di bulan puasa. Semua BimBel berlomba-lomba untuk menjadi yang paling atraktif, baik dari segi harga maupun segi pengajaran, semua solusi jawaban ujian baik yang rahasia maupun bisa dilihat terbuka di website, selebaran paket-paket privat dengan harga terjangkau, dan yang paling menggelikan: ada tryout untuk menghadapi UTS atau UAS…Saya jadi teringat masa-masa BimBel SPMB yang heboh, yang ga pengen saya ulang lagi karena saya muakkk..Muak ngerjain soal yang banyaknya ajubilehh dan beberapa bahkan saya hanya menghapal, ga ngerti konsepnya sama sekali, muak sama tryout yang tiap minggu, muak ngebulet2in LJK, dan muak2 yang lain. Tapi mau ga mau saya ngerasa masa TPB mahasiswa2 yang sekarang kurang lebih kayak gitu. Masa2 ngapalin soal, masa2 ga ngerti sebenarnya konsep soal kayak gimana, masa2 dibimbing dan males buat nyari tahu sendiri. Apa ini pertanda kegagalan dosen TPB dalam mengajar mahasiswa? Saya rasa ga. Selama saya TPB saya hampir selalu mendapatkan dosen yang menguasai dengan baik materi ajar dan menyampaikannya dengan sama baiknya. Lagipula sekarang ITB terus meningkatkan kualitas2 pengajarnya dan melakukan evaluasi dengan menyebarkan kuesioner setiap akhir tahun ajaran, ditambah lagi dengan fasilitas kelas dan presentasi yang sudah cukup memadai. Atau ini cerminan mahasiswa2 ITB yang semakin borjuis, egois, dan manja? Bisa jadi. BimBel2 ga akan semakin menjamur kalo ga ada peminatnya. Hukum ekonomi pasti berlaku, di mana banyak permintaan pasti banyak penawaran. Saatnya kita mengevaluasi diri lagi, apakah kita udah menjalankan kodrat dan kewajiban kita sebagai mahasiswa atau hanya puas dengan menyandang status sebagai mahasiswa ITB? Jangankan memberi kontribusi, jangan2 kita masih dicekoki layaknya anak balita yang belum bisa mengunyah? Atau jadi ga pernah ngedengerin dosen di kelas karena mikir bisa diajarin di BimBel? Sebaik2nya pengajaran guru privat ga akan menandingi konsep yang ada di textbook (kalo kita mau baca) atau ilmu yang dikasih dosen kita yang berpengalaman. Karena ilmu dari dosen dan textbook bagaikan kita minum dari mata air sumber ilmu, bukan dari hilir sungai yang airnya udah terkontaminasi. Saatnya kita bertanya dan berkaca, apakah kita kuliah di ITB atau kuliah di tempat les privat?
Waktu saya dan temen2 Tekim 2005 nginep bareng di Ciwidey dan kita pada nonton infotainment bareng, ada berita kalo pemain sinetron Tommy Kurniawan bersama manajemennya sedang menghabiskan liburan di Dunia Fantasi. Dan kami, seperti biasa, seperti menanggapi berita yang lain, langsung ribut sendiri komentar soal artisnya lah, soal gosip2nya dia yang lain lah, kalo ga cekikikan dan ngeceng2in kalo mereka melakukan hal2 atau mengeluarkan kata2 yang konyol, sayangnya para pemain sinetron sering melakukannya sehingga tawa riuh rendah dan komentar2 kocak agak sedikit kejam seringkali mewarnai acara nonton bareng infotainment kami. Ironisnya, berita asli seringkali tidak terdengar lagi karena terkalahkan oleh komentar2 dan cacian2 kami. Kembali lagi dengan kasus Dufan dan Tommy Kurniawannya, akhirnya ada temen saya yang komentar..Di Tornado itu kan pernah ada 21 orang yang meninggal gara2 jatuh karena Dufannya mati lampu? Komentar tersebut diiyakan oleh mayoritas temen2 saya. Saya juga udah pernah denger hal tersebut dan terpancing buat ngebantah. Ga mungkinlah berita sebesar itu bisa ditutup-tutupi, dengan jumlah korban yang sedemikian banyak dan ribuan saksi2 mata. Tapi temen2 saya waktu itu bersikeras kalo hal itu emang pernah bener2 kejadian, bahkan sempet diputer di Metro TV bentar. Kata temen saya para korban dan saksi mata dibayar supaya ga membocorkan kejadian ini ke media massa sama Dufannya. Waktu itu semua temen saya bersikeras dan kekeuh, dan jelas saya kalah suara dari mereka. Tapi saya masih tetep meragu, kasus daging2 sampah, susu bermelamin, dan manipulasi2 makanan aja beredar dengan kencangnya dan secara lugas dan tajam diberitakan, masa kasus kecelakaan di Dufan (kalo emang bener2 kejadian) bisa ditutup dengan rapi? Masa di antara sekian ribu orang ga ada yang berani melaporkan kepada yang berwajib? Dan masa kru2 Surya Paloh segitu butuh duitnya sehingga ga jadi memberitakan hal tersebut secara besar2an kalo emang kejadian tersebut bisa dipertanggungjawabkan? Kejadian itu kan cukup menyangkut hajat hidup hiburan orang banyak? Makanya saya ga gitu aja percaya sama orang2 ga bertanggung jawab yang nyebarin berita tersebut dan langsung menghilang segera berita tersebut tersebar dari mulut ke mulut, e-mail berantai, dan jadi topik pembicaraan di forum2? Saya pingin banget dapet klarifikasi dari pihak yang bersangkutan soal hal ini, apa bener hal tersebut kejadian? Kalo emang bener, kenapa ga ada orang yang minta pertanggungjawaban? Dan kenapa juga ga ada beritanya sama sekali? Hal ini penting banget, mengingat reputasi Dufan yang cukup bagus dalam dunia hiburan dan cukup banyak dikunjungi orang2 termasuk saya.. Sekarang kan kita hidup di jaman transparansi.. setidaknya berusaha menuju ke arah sana..
Karcis adalah tanda bukti kalo kita udah membayar sesuatu, namun saya perhatiin akhir2 ini orang2 jarang banget ngasih karcis sebagai tanda bukti pembayaran. Contoh paling gampang, tukang parkir di jalan2 yang bukan punya mereka, jangankan ngasih karcis, pake seragam tukang parkir aja ga. Mereka seenaknya netepin harga ke para pengguna mobil tanpa memberikan bukti bahwa mereka juga memberikan setoran ke Pemda Bandung sebagai pemilik lahan. Dan anehnya, Pemda Bandung juga kayaknya ga peduli kalo para tukang2 parkir preman ini merajalela di jalanan. Karena toh buktinya mereka ga pernah melakukan razia ke jalan2 untuk menertibkan tukang parkir preman. Atau malahan tukang2 parkir preman adalah antek2 mereka? Saya ga tahu juga, tapi jelas hal ini sangat tidak tertib. Waktu naik shuttle bus ke BSD, kernetnya nagih duit 13000, dan waktu saya nanya mana karcisnya, mereka malah ngetawain saya sambil bilang “karcis apaan Neng?”. Padahal di bus ga ada tulisan tarif 13000 secara resmi. Terang saya juga mencap kernet ini sebagai kernet preman, walaupun mungkin sebenarnya bukan. Terus waktu ke beberapa tempat wisata di Ciwidey, ga ada satupun tempat yang memberikan karcis, bahkan tarif masuknya dapat ditawar semaunya. Bukannya saya mau sok rese atau ribet, tapi bukankah lebih baik kalau semua fasilitas umum yang diharuskan untuk membayar menggunakan tanda bukti pembayaran? Tentu akan lebih akurat dan mudah untuk didokumentasikan bila terjadi kesalahan. Dan lagi, hal ini akan mengurangi kemungkinan korupsi dan kesalahpahaman karena sistemnya yang rapi. Para pengguna jasa pun merasa mereka telah menggunakan layanan yang resmi dan profesional. Mungkin hal ini agak sulit diterapkan pada Angkot, karena sistemnya yang naik dan turun di sembarang tempat. Namun untuk memberi kejelasan penumpang terhadap tarif dan menanggulangi kelicikan supir untuk memberikan uang kembalian, ada baiknya tarif angkot secara resmi ditempel di dalam angkot, ketimbang iklan2 parpol atau iklan pelangsing perut instan. Sudah saatnya Pemda Bandung lebih komunikatif terhadap masyarakat khususnya kepada para pengguna angkot, dan menindak dengan tegas preman2 parkir.
Si centil..mungkin itu julukan anak2 Teknik Kimia ITB 2005 buat saya,,heheheh,,bukannya bangga juga sih, cuma kayaknya emang sesuai buat saya yang suka ngaca, ribet kalo rambut berantakan, dan sangat tertarik dengan segala sesuatu yang berbau dengan kecantikan terutama yang bisa diperoleh dengan harga murah. Bukan apa2, nyadar juga kalo muka dan badan ga secantik artis2 di layar kaca, dan menyadari kodrat sebagai seorang wanita yang gemar bersolek..Makanya saya termasuk orang yang (kalo punya duit) seneng melakukan perawatan2 yang merefresh muka dan badan atau dengan kata lain emang centil..inget: selama masih punya duit loh..heheheh..Dengan motto ”kalo bukan kita yang mau ngerawat, siapa lagi?” saya maju terus pantang mundur untuk melakukan berbagai perawatan, walaupun sering diketawain temen2 atau bikin nyokap geleng2 kepala. Tapi ga seheboh itu juga koq, karna ya itu tadi, masih terbatas oleh permasalahan finansial, karna ga mungkin juga kan ga makan atau ga jajan gara2 nyalon, lagian kan ga enak minta sama ortu mulu..Makanya saya cuma skali2 aja centil2annya. Tapi centil2an saya cukup menginspirasi cewe2 Tekim loh..buktinya kita jadi sering nyalon bareng..heheheh..Biasanya perawatan kecantikan yang saya lakukan dengan rutin adalah:
1. Masker rambut. Yang ini pasti saya prioritasin karena rambut yang tipis, rontok, dan agak merah. Jadi kalo ga dimasker bakal makin tipis, rontok, dan makin merah. Ga creambath karena creambath bisa bikin rambut rontok tambah rontok. Biasanya sebulan sekali saya dateng ke Salon Memory atau Anata. Kadang2 ke Johny Andrean School juga sih kalo lagi janjian sama temen2 deket dari Unpad..Tapi selama ini perawatan di salon2 tersebut belum cukup memuaskan karena hasilnya ga langsung keliatan. Dulu waktu SMA saya sempet punya salon langganan yang bernama Salon Ibu Dedeh di deket rumah. Walaupun cuma salon rumahan dan harganya murah, pelayanan dan hasilnya sangatmemuaskan. Rambut jadi hitam, lebat, dan berkilau. Kalo sekarang ga pernah ke sana lagi, karena saya nyoba buat lebih realistis. Biaya bensin dan capenya lebih besar dari keuntungan yang didapet..heheh..tapi sekarang lagi bener2 merindukan salon yang kayak gitu lagi..dimana yah? Kalo bisa yang pake produk Makarizo sih heheheh..
2. Masker, scrub dan facial muka. Kalo masker dan scrub biasanya dilakukan sendiri di rumah, pake produk Mustika Ratu dong..tapi akhir2 ini produknya koq udah ga pernah keliatan di pasaran yah? Sempet berhenti di tingkat 3 karena LabTek yang menggila..tapi sekarang sedapat mungkin diusahakan kembali. Kalo facial saya udah sering nyoba di berbagai tempat dengan kombinasi harga termurah dan hasil terbaik. Pernah sekali di Natasha, sakit banget tapi hasilnya tahan lama, komedo2 dan jerawat2 kecil di pipi sukses ga muncul berbulan2. Trus pernah di Anata karna harganya murah banget. Dan untuk urusan muka harga emang ga pernah boong karena muka saya luka2 dipencetin jerawatnya di sana. Sepertinya mereka melakukan teknik purba memencet jerawat. Alhasil saya kapok kesana lagi. Pernah juga di Ariyanti, lumayan. Paling sering di Erha karena berasa gaya aja facial di sana..heheh..dan harganya ga terlalu mahal, kalo dulu 80000. Tapi ga enaknya mencetin komedonya ga tuntas jadi gampang balik lagi. Kalo saya protes biasanya mbak2nya bilang “iya mbak facial itu tidak bisa langsung butuh proses dan harus berkali2”. Yang saya terjemahkan sebagai “sering2 dateng kesini makanya mbak, rugi saya kalo sampeyan cuma dateng sekali”. Karena harganya lumayan mahal, makanya saya facial paling sekali 6 bulan. Nabung dulu heheh..
3. Lulur badan dan spa. Perawatan ini baru2 aja saya lakukan sejak ada tempat yang namanya Rumah Cantik di daerah Buah Batu. Lumayan jauh sieh, tapi emang sesuai dengan hasilnya. Harganya juga relatif murah. Kalo lagi capek banget dan berdaki tebal, cocok banget ke sini. Semua kotoran2 dari badan kita bakal dikerok abis di sini. Keluar dari sini akan secantik dan sewangi Putri Raja..sugesti aja sih..tapi relaxing n refreshing banget. Belum lagi dipijetnya lama dan suasananya yang tenang. Waktu itu saya berhasil ngebujuk nyokap buat ikutan dilulur dan dispa disini. Maksudnya biar sekalian dibayarin gituh..Sama aja kayak facial, biasanya lulurannya 6 bulan sekali aja atau kalo lagi punya duit..
Pas ada promosi Rumah Cantik Citra saya seneng banget karena hanya dengan menunjukkan botol Citra ukuran apa saja (persis iklan) kita bisa dapet pelayanan scrubbing dsb dsb. Kapan yah Rumah Cantik Citra ada di Bandung lagi? heheh..
Cukup banyak sifat2 buruk yang dari dulu pengen saya ubah tapi belum kesampean juga sampe sekarang. Mudah2an sambil nulis blogjadi keingetan terus sifat buruknya dan ga dilakuin lagi.
1. Suka terburu2
Kalo ngelakuin sesuatu pengennya instan dan cepet selesai tanpa berpikir panjang apa yang harus dilakukan terlebih dahulu. Akibatnya, banyak hal sepele dan sering juga penting yang sering terlupakan karena sikap terburu2 ini. Temen saya selalu bilang “calm down, Lau, coba dipikirin lagi baik2.” Biasanya kalo udah kayak gini saya narik napas, keluarin, trus mencoba berpikir jernih. Eh ga lama kemudian secara ga sadar buru2 lagi deh..
2. Panikan
Setali 3 uang sama sikap terburu2, kalo ngadepin sesuatu yang di luar perkiraan dan rencana (saya sering banget membuat rencana), biasanya saya cepet panik, jadi terburu2, dan akibatnya ga bisa berpikir secara jernih. Hal ini sangat berdampak buruk, kejadian paling sering kalo soal ujian ga sesuai perkiraan saya. Yang ada jadi makin ga bisa mikir dan ujung2nya beteee..
3. Sangat dikendalikan oleh mood
Menjadi orang dengan dominasi kepribadian sanguine, perasaan dan pikiran saya sangat dikendalikan oleh mood. Kalo lagi semangat dan dalam suasana hati yang hepi, jadi pengen ngerjain segala sesuatu, masalah seberat apapun bisa dihadapi dengan senyum dan positif. Tapi kalo perasaan lagi ga enak, jangankan ngerjain sesuatu, makan aja males, pengennya tidur, tidur dan tidur.. Sayangnya mood saya turun secepat mood saya naik. Makanya harus terus diseimbangkan.
4. Suka gangguin adek
Berkebalikan dengan saya, adek tuh orangnya melankolis dan pendiem. Makanya gatel banget kalo dia udah diem2 seribu bahasa. Sepi.. Langsung saya kasih jurus colek2 dan cubit2 supaya dia bersuara lagi, dan tentunya suara yang dikeluarkan adalah suara teriakan dan omelan, trus ujung2nya pasti jadi berantem deh..
5. Pemarah dan ga sabaran. Yang ini terutama sama nyokap. Durhaka banget, tapi paling sebel dan ga sabar kalo nyokap nanya kayak interogasi, makan apa? jalan2 kemana? sama siapa? emang ga ada kuliah? dsb dsb. Belum lagi teror lewat telpon berkali2. Pucing banget dan saya pasti marah2..tapi sekarang udah berkurang, karena nyokap juga udah ngurangin porsi teror dan interogasinya. Suka ga sabaran juga kalo ada orang yang berkali2 diterangin ga ngerti2 juga, trus kalo ada orang yang nyebelin dan annoying mewarnai kehidupan sehari2 saya. Tapi pengalaman di Gresik memberi saya wacana baru: terimalah dengan sabar orang yang menyebalkan..
6. Suka nonton infotainment secara berlebihan hingga berjam-jam
Mental gosip saya susah banget dikikis, padahal berita infotainmentnya sama2 aja dan tidak dikemas dengan menarik koq..
7. Pelit
Dulu sih alesannya pengen nabung, tapi kadang2 saya suka pelit sampe ga kira2. Contoh: selalu minjem DVD ke temen atau saudara karna ga mau beli sendiri, bahkan promosi ke adek kalo “ni film bagus banget!” supaya dia beli dan saya bisa ikut nonton..licik dan oportunis heheheh..
6. Pemales dan tukang tidur
Ini pergumulan paling berat..heheheh..males sikat gigi malem juga kadang2..
04/10/2008
Hari ini hari kedua saya ada liburan di Jakarta sama keluarga nyokap, setelah kemarin puas berenang di Waterbom. Rencananya hari ini mau ke BSD ketemu temen2 SMP yaitu Ribka, Fani, Novi, dan Jane. Bangun pagi-pagi buat menikmati sarapan sepuasnya di hotel, saya dan adik ga mau rugi. Kami turun jam setengah delapan. Baru buka pintu saya terperanjat, ketemu Yulia Rahman dan Demian sama anaknya yang masih kecil. Mereka mau sarapan juga kayaknya. Sepanjang lift saya n adek nervous, ketawa2 ga jelas gitu..Sindrom orang kampong ketemu artis kayaknya..Yulia Rahman doank gituh..heheh..Blum beres ngampungnya, waktu makan saya n adek sngaja ngambil tempat yang strategis buat mengamati sepasang artis itu..berasa wartawan2 infotainment heheh..Setelah setengah jam kami udah mulai bosen mengamati mereka dan mulai tertarik dengan makanan2 yang disuguhkan. Nasi, kentang, sosis ayam, sapi, macem2 roti, salad, sayur, ampe miso, dari yang sering dimakan ampe yang belum pernah dicobain deh. Insting kampong kembali merajalela, ngerasa rugi kalo ga nyoba semuanya. Ga kerasa udah satu setengah jam, dan semua pengunjung resto yang sarapan udah ganti orang semuanya kecuali kami. Sampai akhirnya ada ibu2 yang ga kbagian meja lagi dan share meja sama kami, dan akhirnya kami sadar kami udah kelamaan di sana. Jam 9 kami naik lagi ke atas trus mandi n siap2 karna mau jemput saudara dulu di Hotel Crowne Plaza. Nyampe di Crowne Plaza jam setengah 10, Jakarta belum macet. Karna ibu2 dan remaja putra putri pengen belanja di Mangga Dua, saya dianter dulu ke Ratu Plaza buat naik Shuttle Bus ke BSD. Rada nekat sebenernya, soalnya saya belum pernah naik bus ini, sendiri lagi, dan saya ga tau jadwal keberangkatan busnya. Samar-samar saya inget kalo dulu shuttle bus BSD itu ada setiap 1 jam. Waktu udah nunggu di halte, banyak orang yang udah nunggu di sana, dan ternyata ga cuma nunggu shuttle bus itu aja. Ada yang ke Tanjung Priok, Blok M. Waktu saya nanya sama seorang ibu di sana, dia malah bilang, bus shuttle BSD belum lewat2 dari tadi, kayaknya gara-gara Lebaran. Sekarang baru saya sadar bahwa saya bener-bener nekat, padahal saya janjian sama temen2 jam 11 udah nyampe sana. Segera saya berpikir cepat, jalur alternatif lain apa yang bisa saya tempuh selain naik shuttle bus supaya bisa tetep nyampe ke BSD dengan selamat, sambil berdoa supaya shuttle bus cepet dateng. Dan, beruntung banget, doa saya terkabul. 10 menitkemudian bus yang ditunggu-tunggu tiba dan saya naik dengan perasaan sangat lega. Waktu saya liat jadwal keberangkatan bus tersebut, ternyata kalo saya ketinggalan bus yang ini, bus baru ada lagi jam 1, hampir pasti kalo janjian bareng temen SMP yang udah direncanain dari lama bakal batal. Sepanjang jalan saya menikmati pemandangan jalan-jalan Jakarta yang lancar. Busnya cukup nyaman, pake AC, tiap orang dapet bangku karena emang relatif sepi, lewat tol lagi..dengan harga yang sesuai: 13000. 1 jam kemudian saya nyampe dengan setengah tertidur di tol. Akhirnya nyampe juga di Kolam Renang Sektor I, tempat pemberhentian terakhir shuttle bus. BSD udah jauh banget berubah dibanding terakhir saya tinggal di sana. Udah banyak mal, ruko2 apalagi, pasar tradisional udah berubah jadi pasar modern dengan restoran di mana-mana. BSD Plaza yang dulu didapuk mal paling yahud, sekarang jadi mal setengah berAC setengah ga yang temen saya aja udah ga sudi diajak ketemuan di sana. Kami janjian ketemu di restoran Mie Pelangi punya temen saya Jane. Nyampe sana langsung makan siang gretong sama Ribka, Fani, n Jane. Novi ga ikut coz baru balik dari Batam dan Seninnya dia ada ujian. Puas ngegosip dan ngupdate berita2 soal anak2 SMP Sanoer beserta guru2nya..bayangin ada gosip mantan guru saya hamil duluan baru nikah..kejam nian,,entah bener entah ga..Trus abis kenyang kami ngelanjutin gosip dan update ke Summarecon Gading Serpong, tapi Jane ga ikut karna kudu jaga restony yang lumayan rame dan emang enak! Naik angkot 2x dengan biaya total 6000 (padahal jaraknya ga terlalu jauh), kenaikan BBM bener2 memberikan dampak pada angkot atau dijadikan kesempatan buat naikin tarif ga kira2 sama supir2nya? Trus nyampe di sana biasa nerusin ngegosip lagi deh..Kita b3 yang lagi jomblo dan sama2 berkesimpulan kalo percintaan memang memusingkan heheh..Jam 3 saya dijemput sama keluarga dan saudara2 di Summarecon, trus liat rumah baru di Latinos BSD. Sepupu saya yang masih SMA kelas 1 nantangin saya bawa mobil, padahal udah rada2 lupa caranya coz udah lama banget ga make. Dari BSD lanjut ke Mangga Dua ngejemput saudara saya yang lain yang belum selesai belanja (juga?!). Perjalanan terasa menyenangkan karena Jakarta belum menampakkan tanda2 kemacetan. Kami sekeluarga akhirnya memutuskan makan di Chilis Sarinah setelah sebelumnya sempet berdebat karena ada yang pingin makan steak n ada yang kekeuh pengen Padang. Kirain Chilis tuh resto steak biasa yang harganya 50-60 ribu, ehhhh ternyata ohhhh ternyata..harga makanannya aj paling murah 80ribu, itupun bukan steak cuma appetizer doank..Steaknya sekitar 200ribuan, sepupu saya promosi kalo itu steak paling gede dan paling enak..Saya n adek jadi penasaran juga, cuma gara2 harganya yang selangit kita jadi ga tega buat pesen seorang satu porsi..masih keinget juga sayang duitnya bisa dipake yang lebih berguna daripada makanan yang besok udah dibuang ke WC lagi..Ternyata ohh ternyata..pesenannya lama banget dateng..stengah jam lebih..dari belum laper-sedikit laper-laper-laper tak tertahankan-laper menyiksa-laper buangettt-udah ga laper lagi baru makanannya dateng. Ternyata ohh ternyata…steaknya ga seheboh yang diiklanin sepupu saya..Gede sih..Lembut sih..Tapi ga ada yang bikin pengen balik lagi..Mungkin karna udah kelamaan nunggunya jadi antiklimaks. Minumannya? paling murah 15 ribu kayaknya,itu juga Aqua..belum taxnya..belum biaya servicenya..jadi heran juga kenapa banyak orang yang mau ngabisin duitnya disini? Apa makin mahal berarti makin enak dan memuaskan? Puas karena uang habis? Akhirnya kami pesen lemon tea yang katanya kalo udah abis boleh minta lagi…sepuasnya..Dengan naluri penghematan, kami semua akhirnya pesen satu gelas berdua,,Pas minta nambah, seorang cowo dengan gaya bossy tengil dateng dan bilang kalo lemon tea sepuasnya baru bisa berlaku kalo kita pesen seorang satu. Padahal tadi pas kami pesen ga dikasih tau kayak gitu sama waiternya. Dia tetep bersikeras dengan gaya pelitnya itu kalo bener2 ga bisa nambah sambil menyeringai dengan seringai yang ga maut sambil berkata “Saya manajernya”. Heran juga, resto semahal dan sekelas Chilis (notabene dari Amrik or Eropa or Ausie) ga punya pelayanan yang profesional. Padahal kami yang udah dateng dengan rombongan 14 orang rasanya cukup berkontribusi pada pendapatan Chilis malem itu dan harusnya mereka bisa ngasih kompensasi atau pelayanan yang lebih menyenangkan. Ditambah lagi rasa nasi goreng udangnya yang ga berasa dan udah agak2 lama gitu..Sangat tidak memuaskan untuk sebuah kesan pertama. Udah kebanyakan pelanggan kali, tebak adik saya. Tanpa diminta kami ngasih saran di atas selembar tisu, trus buru2 pergi abis selesai makan, Tulang saya yang paling kocak meleletkan lidah di depan pintuny kayak jaman2 kita berantem pas SD dulu,,asli puass banget..abis itu kami ketawa2 histeris khas batak dehhh..Sebuah pengalaman yang sungguh mempersatukan persaudaraan..Terima kasih Chilis dan manajer yang tidak memiliki profesionalisme manajerial..
N.B: Belum puas juga, dasar perut2 khas Indonesia, kami makan nasi bungkus padang lagi di Garuda..hehehh